Pelajaran Esensial: Kecerdasan Emosional Guru bagi Efektivitas Pembelajaran - dikpora.jogjaprov.go.id DETAIL ARTIKEL JURNAL Dipublish: 12 Juli 2016 10:07 WIB, - Dibaca : 8469 kali

Pelajaran Esensial: Kecerdasan Emosional Guru bagi Efektivitas Pembelajaran

Penulis : Aris Priyanto
Share :

Abstract

Robbins & Judge (2008: 116) menyatakan bahwa ``People who know their own emotions and are good at reading others' emotions may be more effective in their jobs``. Orang yang memahami emosi diri sendiri dan bisa membaca emosi orang lain mungkin lebih efektif dalam melakukan pekerjaannya.

Pernyataan ini berlaku juga bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran karena pada era kompetitif sekarang ini, peran guru semakin menantang. Oleh sebab itu keprofesian guru semakin menjadi tuntutan. Efektivitas manajemen diri menjadi vital bagi peningkatan keprofesian guru. Kemampuan manajemen diri sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional atau disebut Emotional Quotient (EQ) atau disebut juga Emotional Intelligence (EI) yang mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan serta kemampuan memotivasi diri sendiri, sangat diperlukan oleh guru bagi terciptanya efektivitas pembelajaran.

Kata Kunci : Kecerdasan emosional, efektivitas pembelajaran

A. Pendahuluan

Di awal abad ke 20, Intelligence Quotient (IQ) merupakan satu-satunya kecerdasan yang dikenal yaitu suatu kecerdasan yang digunakan untuk berpikir logis-rasional, kecerdasan tersebut adalah cara berpikir linier yang meliputi kemampuan berhitung, menganalisa sampai mengevaluasi dan seterusnya. Demikian juga dalam sistem pendidikan selama ini lebih menekankan pada pentingnya nilai kognitif ( Intelligence Quotient atau sering disebut IQ). Sejak Intelligence Quotient dipakai sebagai ukuran kecerdasan, sejak itu pula kemampuam matematis seolah mendominasi dunia. Jarang penghargaan yang diberikan pada penulis puisi, novelis, olahragawan atau pelukis, sebagai orang-orang cerdas. Ukuran kecerdasan dan kunci kesuksesan hanyalah yang bertumpu pada nilai-nilai IQ (nilai kognitif).

Sebagai akibatnya, pengembangan keprofesian guru juga lebih menekankan dan lebih fokus pada aspek kognitif. IQ seorang guru dipangang sangat penting, terbukti bahwa tes uji kompetensi guru juga dominan pada aspek kognitif. IQ seorang guru memang penting untuk diasah dan dikembangkan, terutama untuk memenuhi tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat cepat. Namun, IQ tidak menjamin kesuksesan dan keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas mulianya terutama dalam menciptakan pembelajaran yang efektif.

Menyadari keterbatasan IQ, muncul konsep baru yaitu kecerdasan emosi yang biasa disebut Emotional Quotient (EQ). Daniel Goleman, Segal dan Gotman menyatakan bahwa kemampuan IQ tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang. Dari hasil penelitiannya terungkap bahwa perbedaan orang yang sukses justru terletak pada kecerdasan emosional yang mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Bahkan dalam buku Emotional Intelligence, Goleman (1995) menyatakan bahwa ``emotional intelligence is the nuclear power of living``, kecerdasan emosi adalah inti dari daya hidup.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul konsep Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner, Ph.D., Professor of Education di Havard University. Gardners Multiple Intelligences meliputi : 1. Verbal-linguistic intelligence (kecerdasan linguistik yaitu keterampilan verbal dan sensitivitas terhadap suara, makna, dan ritme kata-kata) 2. Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logis matematis yaitu kemampuan berpikir konseptual dan abstrak, dan kapasitas pola numerik dan logis) 3. Spatial-visual intelligence (kecerdasan visual-spasial yaitu kapasitas berpikir tentang gambar, dan memvisualisasikan secara abstrak dan teliti) 4. Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik yaitu kemampuan mengendalikan gerakan tubuh dan menangkap/mengarahkan obyek dengan baik) 5. Musical intelligence (kecerdasan musical yaitu kemampuan memproduksi dan mengapresiasi ritme, nada, dan balok) 6. Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal yaitu kapasitas mendeteksi dan merespon motivasi, mood, dan keinginan dengan tepat) 7. Intrapersonal (antar personal yaitu kapasitas kesadaran diri dan tanggap terhadap perasaan, nilai-nilai, kepercayaan, dan proses berpikir) 8. Naturalist intelligence (kecerdasan naturalis yaitu kemampuan mengenal dan mengkategorisasikan tanaman, binatang, dan obyek lain di alam) 9. Existential intelligence (kecerdasan eksistensial yaitu sensitivitas dan kapasitas menyelesaikan dan menjawab pertanyaan tentang eksistensi manusia.

Dalam perkembangannya, banyak ahli menemukan kelemahan dalam konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner tersebut karena lebih menonjolkan pada aspek kognitif, sekalipun musik, olahraga, dan hubungan antar pribadi juga dilibatkan. Sebagai penyempurnaannya maka muncullah konsep kecerdasan spiritual yang diperkenalkan oleh ilmuwan suami istri Ian Marshall dan Danah Sohar pada awal abad ke 21. Sohar berpendapat bahwa pengenalan diri dan terutama kesadaran diri adalah kesadaran internal otak, menurutnya, proses yang berlangsung dalam otak sendirilah tanpa pengaruh pancaindra dan dunia luar yang membentuk kesadaran sejati manusia. Sohar dan Ian Marshall menyebut SQ sebagai The Ultimate Meaning (puncak kecerdasan), suatu kecerdasan yang benar-benar luar biasa.

Sejauh ini berdasarkan pengamatan penulis kesadaran guru dalam meningkatkan kecerdasan spiritual (SQ) sudah banyak dilakukan. Namun implikasi kecerdasan spiritual (SQ) sejauh ini masih kurang optimal dalam mendukung pada efektivitas pembelajaran. Guru masih banyak yang belum menyadari akan pentingnya kecerdasan emosional dalam proses pembelajaran. Guru perlu meningkatkan kecerdasan emosional karena sangat berpengaruh bagi efektivitas pembelajaran. Dalam artikel ini penulis memfokuskan pembahasan tentang urgensi pengembangan kecerdasan emosional (emotional intelligence) guru bagi efektivitas pembelajaran.

B. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) Guru dan Efektivitas Pembelajaran

Kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) dipopulerkan oleh Goleman (1995) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional sangatlah kuat bahkan melebihi kekuatan Intelligence Quotient (EQ). Ada sejumlah definisi yang berbeda dari kecerdasan emosional, tetapi secara umum, kecerdasan emosional didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, mengatur, dan mengelola emosi dalam diri dan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi berhubungan dengan berbagai hasil positif, seperti tempat kerja yang lebih baik.

Dalam buku Mike Breadly `` Emotional Intelligence in the Classroom`` yang dikutip oleh Ginnis (2007: 36) menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakan emosi kita untuk meningkatkan keberhasilan kita dalam aspek kehidupan kita.

Goleman (2006) menekankan pentingnya kecerdasan emosional bagi guru dalam menciptakan efektivitas pembelajaran seperti yang dikutip dalam buku Differentiating Instruction for Student with learning Disabilities(William N. Bender, 20012) di bawah ini:

When two people interact, their minds are actually influencing each other, and they are likely to increasingly reflect each other moods and emotion. In fact, they are likely to begin to match each other on such things as voice volume, voice tone, emotional intensity, or even facial expression and body language, depending on the degree and level of intensity of interaction. Thus, when teaches or students are unhappy in the context of an educational activity, the other students in the class are somewhat pre-disposed to reflect that in their own moods, emotions and possibly even their actions.

Kutipan di atas memberikan pesan bahwa ketika dua orang berinteraksi, pikiran mereka saling mempengaruhi, mereka merefleksikan suasana hati dan emosi satu sama lain. Kenyataannya suasana hati dan emosi menyesuaian dengan volume suara, volume intonasi, intensitas emosional. Atau bahkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh, tergantung dengan tingkat intensitas interaksi. Dengan demikian, ketika guru dan siswa tidak bahagia dalam konteks aktivitas edukasional, maka akan berpengaruh suasana hati, emosi, dan bahkan tindakan-tindakan siswa. Jadi sangat jelas bahwa suasana hati dan emosi seorang guru sangat berpengaruh pada siswa dan efektivitas pembelajaran.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa sosok guru sangat penting bagi efektivitas pembelajaran. Guru dituntut untuk hadir sebagai motivator yang bisa membuat anak merasa senang dan tidak cemas. Hal ini tentunya melibatkan kecerdasan guru untuk dapat melakukannya.

Guru mempunyai tugas untuk menciptakan pembelajaran yang merupakan proses membantu siswa agar dapat belajar dengan baik yang di dalamnya melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Dalam proses ini guru membangun kecerdasan emosional siswa. Untuk suksesnya usaha membangun kecerdasan emosional siswa tentu saja terlebih dahulu guru membangun kecerdasan emosional diri sendiri. Kecerdasan emosional seorang guru memainkan peranan penting dalam meningkatkan perfomanya dalam mengajar dan berinteraksi dengan segenap komponen sekolah terutama siswa. Kemampuan kecerdasan emosional akan berdampak pada keberhasilan guru dalam mengelola interaksi antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa lainnya sehingga seorang guru dapat menjaga dan mengendalikan ketertiban kelas, mengelola kegiatan pembelajaran sehingga terjadi pembelajaran yang efektif.

Selanjutnya Goleman (2008) mengkategorikan 25 (dua puluh lima) kompetensi kecerdasan emosional yang kemudian diturunkan menjadi 5 dimensi sebagai berikut:

1. Dimensi self awareness (kesadaran diri) yaitu mengetahui keadaan dalam diri sendiri mengenali emosi sendiri, mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri, dan keyakinan akan kemampuan sendiri.

2. Dimensi self regulation (pengaturan diri) yaitu mengelola keadaan dalam diri dan sumber daya diri sendiri.

3. Dimensi motivation (motivasi) yaitu dorongan yang membimbing atau membantu pencapaian sasaran atau tujuan.

4. Dimensi empathy (empati) yaitu kesadaran akan perasaan, kepentingan, dan keprihatinan orang.

5. Dimensi social skill (kecakapan dalam membina hubungan dengan orang lain) yaitu kemahiran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki oleh orang lain.

Sementara itu Peter Salovey dan John D. Mayer (2004) menyebutkan kualitas-kualitas yang penting bagi keberhasilan seseorang: 1) empati, 2) mengungkapkan dan memahami perasaan, 3) mengendalikan amarah, 4) kemandirian, 5) kemampuan menyesuaikan diri, 6) disukai, 7) kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, 8) ketekunan, 9) kesetiakawanan, 10) keramahan, 11) sikap hormat.

Peran kecerdasan emosional guru dalam proses pembelajaran sangat signifikan, seperti digambarkan oleh Mortiboys (2005) dalam gambar di bawah ini.

Gambar 1. Effective Teaching (Mortiboys, A., 2005)

Menurut Mortiboys, kecerdasan emosional merupakan bagian yang integral dari pembelajaran efektif. Dia menempatkan kecerdasan emosional sebagai inti dari keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu dia menyarankan agar guru selalu meningkatkan kecerdasan emosional. Ketika guru menggunakan kecerdasan emosional dalam pembelajaran maka secara tidak langsung guru juga melibatkan dan meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Dengan demikian siswa diharapkan mampu berkembang menjadi insan yang good and smart.

C. Kunci meningkatkan kecerdasan emosional guru

Di bawah ini disajikan 6 (enam) kunci meningkatkan kecerdasan emosional

1. Mengurangi emosi negatif

Mungkin tidak ada aspek kecerdasan yang lebih penting dari kemampuan kita mengelola secara efektif emosi negatif kita sehingga tidak mempengaruhi penilaian kita. Agar kita bisa mengubah perasaan yang negatif kita harus mengubah cara berpikir kita. Ada dua contoh yang dapat dilakukan guru:

a. Mengurangi personalisasi negatif

Ketika kita merasakan perilaku seorang siswa negatif, hindarkan memberikan penilaian (judgement) atau melakukan kesimpulan tiba-tiba. Namun, berpikirlah dengan berbagai cara pandang terhadap situasi ini sebelum bertindak. Misalnya: seorang siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, atau siswa sibuk dengan dirinya sendiri. Hindari melakukan personalisasi negatif siswa dengan tiba-tiba. Siswa itu bertindak demikian mungkin karena guru kurang menarik dalam pembelajaran atau guru kurang bisa mengelola kelas. Perluaslah perspektif untuk mengurangi persepsi negatif pada siswa.

b. Mengurangi ketakutan ditolak

Sebagian guru mengalami ketakutan ditolak oleh siswanya. Penyebabnya biasanya ketidak-yakinan akan kemampuannya dalam melaksanakan pembelajaran. Hal yang paling efektif untuk mengelola ketakutan ditolak adalah memberikan berbagai pilihan dalam situasi yang penting, sehingga apapun yang terjadi kita tetap mempunyai alternatif yang kuat untuk mengatasi situasi. Agar siswa dapat menerima guru maka guru harus selalu berusaha meningkatkan kualitas diri.

2. Tetap tenang dan kelola stres dengan baik

Sebagian besar guru pernah mengalami permasalahan berbagai tingkat stres dalam kehidupan. Permasalahan yang tidak dapat dikelola dengan baik akan sangat berpengaruh pada perfoma guru di kelas dan di sekolah. Untuk mengatasi situasi yang membuat stres atau kita dalam keadaan tekanan, hal yang paling penting dilakukan adalah tetap berpikir masuk akal dan tenang. Ambil udara segar dan minum air putih. Hindari kafein karena akan meningkatkan kecemasan. Olahraga ringan sangat baik dilakukan. Senam aerobik akan memberikan semangat dan energi. Apabila vitalitas tubuh terjaga baik, kepercayaan diri akan tumbuh.

3. Bersikap tegas dan teguh

``Being who we are requires that we can talk openly about things that are important to us, that we take a clear position on where we stand on important issues, and that we clarify the limits of what is acceptable and tolerable to us in a relationship.``

Harriet Lerner

Ungkapan di atas memberikan pesan bahwa suatu saat kita harus bisa berbicara tegas tentang sesuatu yang penting, sehingga kita mengambil posisi yang jelas dimana kita berdiri pada permasalahan yang penting. Kita juga harus memperjelas batasan yang dapat diterima dan ditolerir dalam hubungan kita. Dalam konteks ketugasan guru ungkapan ini memberikan rambu-rambu agar kita bisa memposisikan diri sebagaimana seharusnya. Ketegasan dan kejelasan posisi guru pada situasi tertentu harus dapat ditunjukkan. Namun dalam hal kemampuan guru untuk bersikap tegas tetap harus bersifat humanis dan tidak kaku.

4. Proaktif dan tidak reaktif

Guru terkadang menghadapi siswa-siswa yang istimewa sehingga pengelolaan kelas tidak mudah. Hal ini seharusnya dihadapi sebagai tantangan namun bukanlah penghalang. Guru semestinya bisa bertindak proaktif, misalnya dengan melakukan hal sebagai berikut:

a. Ketika merasa marah dan kecewa terhadap siswa, sebelum mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuat menyesal di kemudian hari, bernafaslah dalam-dalam selama kurang lebih sepuluh menit. Begitu selesai bernafas diharapkan kita bisa mendapatkan cara yang lebih baik dalam berkomunikasi sehingga terhindar dari kalimat yang tidak baik.

b. Untuk mengurangi sikap reaktif, cobalah bersikap lebih obyektif sehingga mendapatkan solusi yang lebih baik. Hindari memberikan negative judment.

c. Lakukan komunikasi yang efektif dengan siswa. Salam, senyum, sapa barangkali adalah salah satu bentuk komunikasi yang sangat sederhana, tetapi kalau kita lakukan dengan ketulusan hati akan dapat menjadikan sarana komunikasi yang efektif antara guru dangan siswa.

5. Teguh dalam mengatasi kesulitan

``Ive missed more than 9000 shots in my career. Ive lost almost 300 games. Ive been trusted to take the game winning shot and missed. Ive failed over and over again in my life. And that is why I succeed.`` Michael Jordan

Ungkapan Michael Jordan di atas menggambarkan betapa hidup ini tidak mudah. Bagaimana kita memilih cara berpikir, merasakan, dan bertindak dalam menghadapi tantangan kehidupan. Kita seharusnya bisa membedakan harapan dengan keputus-asaan, optimis dengan frustrasi, kemenangan dengan kekalahan. Demikian juga dalam ketugasan sehari-hari guru dalam menghadapi situasi yang menantang. Guru harus optimis, penuh harapan, dan senatiasa belajar dan mencoba setiap saat meningkatkan kualitas pembelajaran. Ketika guru merasakan kegagalan maka guru harus tetap bersemangat dan berpikir positif, seperti ungkapan yang menggambarkan betapa sulitnya Abraham Lincoln menggapai posisi sebagai presiden yang ditulis dalam Wall Street Journal di bawah ini:

``Abraham Lincoln lost eight elections, failed twice in business and suffered a nervous breakdown before he became the president of United States.`` Wall Street Journal

6. Ekspresikan emosi kedekatan dengan siswa

Ketegasan seorang guru sangat diperlukan, seperti yang telah disebut di atas. Namun mendidik siswa harus penuh nuansa ``loving and caring``. Cinta dan kepedulian pada siswa perlu diekspresikan agar suasana pembelajaran menjadi hangat. Suasana kehangatan seperti di dalam keluarga harus dapat diciptakan guru. Dalam sikap yang membangun motivasi siswa sangatlah diharapkan. Bahasa tubuh seperti eye contact (kontak mata), senyum, dan gerak tubuh, ekspresi wajah menunjukkan sikap persahabatan. Selain itu intonasi suara, volume suara, dan humor juga sangat penting untuk menunjukkan cinta dan perhatian guru pada siswa.

Pestalozzi (dalam Heaford, 1967) menyarankan guru-guru untuk menciptakan kehidupan kelas bagaikan kehidupan hangat dalam keluarga. Guru harus selalu memberikan cinta dan kasih sayang, serta kepercayaan kepada anak didik. Pestalozzi mengatakan bahwa ``without love, neither the physical nor the intellectual powers will develop naturally``. Apabila tidak ada cinta dan kasih sayang, maka kekuatan intelektual dan fisik dalam diri anak tidak akan berkembang dengan alami. Dia memandang bahwa disiplin yang keras dan kaku, seperti yang banyak diterapkan di berbagai sekolah, hanya akan menjauhkan anak didik dari guru, sehingga menghalangi pertumbuhan dan perkembangan alami dan normal, terutama dalam bidang moral dan etika.

D. Penutup

Dari pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengatur, dan mengelola emosi dalam diri dan orang lain.

2. Guru perlu menggunakan dan meningkatkan kecerdasan emosional sehingga dapat membantu mewujudkan pembelajaran yang efektif.

3. Mengingat pentingnya kecerdasan emosional dalam pembelajaran, maka guru perlu melibatkan dan meningkatkan kecerdasan emosional siswa sehingga siswa bisa tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang good and smart.

*) Penulis adalah Pengawas SMA, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Daftar Pustaka

Heafford M.R., 1967, Pestalozzi, Great Britain: Richard Ltd.

Howard Gardner. 2014. The Theory of Multiple Intelligence. Howard Gardner File Word Com, diakses tanggal 4 Juni 2015

Ginnis, Pauli .2007. Trik dan Teknik Mengajar: Strategi meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas. Jakarta: PT. Indeks

Goleman, Daniel. 2008. Emotional Intelligence. Penerjemah T. Hermaya. Jakarta: PT. Gramedia

Goleman, dkk. 2005. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosional. Penerjemah T. Hermaya. Jakarta: PT. Gramedia Pustakan

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence. New York: Bantam Books.

Goleman, D. (2004, January). What makes a leader? [Electronic version]. Harvard Business Review, 82(1), 82-91.

Griffin, R. W., & Moorhead, G. (2007). Organizational behavior: Managing people and organizations (8th ed.). New York: Houghton Mifflin Company.

John D.Mayer.2004. Emotional Intelligence. New York: Amazon

Mortiboys, A. (2002) The Emotionally Intelligent Lecturer. SEDA Special No. 12.

Mortiboys, A. (2005) Teaching with Emotional Intelligence, Routledge

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2008). Essentials of organizational behavior (9th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall.

William N. Bender. 2012. Differentiating Instruction for Student with Learning Disabilities. New York: Sage Publication


---------------------------------------------------------------

Oleh
Aris Priyanto-
aris_smasiji@yahoo.com
Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta


Artikel lainya

 
FROM TEACHER BECOME LEADER AND MANAGER REVITALISASI FUNGSI KEPALA SEKOLAH: PELUANG DAN TANTANGAN
 
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN BAGI GURU MATEMATIKA MELALUI PEMBERDAYAAN KEGIATAN MGMP DI SMK KABUPATEN KULON PROGO SEMESTER 1 TAHUN 2017/2018
 
LANGKAH STRATEGIS PERSIAPAN AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH
 
Mendekatkan Pelajar dengan Bahasa dan Aksara Jawa

Komentar artikel jurnal

Artikel Lain Kembali ke atas






POJOK INSPIRASI

Kejujuran adalah dasar yang sangat penting untuk segala sukses. Tanpa kejujuran, tak ada keyakinan dan kemampuan untuk bertindak. (Mary Kay Ash)
LINK PENTING: BSE - Lembaga Pusat - Lembaga Daerah - Link UPTD - Budaya Baca - Konten Pendidikan - NUPTK - NISN - NPSN - Seksi DIKTI - BAN SM

Kantor : Jl.Cendana 9 Yogyakarta Kode Pos : 55166 Telepon : (0274) 541322 Fax : 513132 Email : dikpora@jogjaprov.go.id
Dinas Pendidikan, Pemuda, & Olahraga
Daerah Istimewa Yogyakarta.

www.pendidikan-diy.go.id
Copyright © 2017 .Hak cipta dilindungi undang-undang.
Web themes by WatulintangMedia