FROM TEACHER BECOME LEADER AND MANAGER REVITALISASI FUNGSI KEPALA SEKOLAH: PELUANG DAN TANTANGAN - dikpora.jogjaprov.go.id DETAIL ARTIKEL JURNAL Dipublish: 02 Oktober 2018 09:10 WIB, - Dibaca : 576 kali

FROM TEACHER BECOME LEADER AND MANAGER REVITALISASI FUNGSI KEPALA SEKOLAH: PELUANG DAN TANTANGAN

Penulis : Reni Herawati - Balai Dikmen Kota Yk
Share :

FROM TEACHER BECOME LEADER AND MANAGER

REVITALISASI FUNGSI KEPALA SEKOLAH: PELUANG DAN TANTANGAN

 

Reni Herawati

Pengawas SMA, Balai Pendidikan Menengah Kota Yogyakarta

 

ABSTRACT

            The idea of ??revitalization of the principal function initiated since 2010 is now realized by the issuance of the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia (Permendikbud) Number 6 Year 2018 on the Assignment of Principals. This regulation has replaced the Regulation of the Minister of National Education No. 28 Year 2010.  The details of the task are elaborated in Permendikbud Number 15 Year 2018 on the Fulfillment of Teacher, School Principal and School Supervisor Duty. The revitalization aimed at improving the quality of education is warmly welcomed. The headmaster's new function as a school manager is a great opportunity to improve the quality of education through good governance of the eight national education standards. On the other hand, it raises a big challenge for the principal whose main duty is originally a teacher with the additional task as a principal; but now he has the main task of being the leader who manages a school. He is not a teacher anymore but a leader and also manager. This article provides a breakthrough to welcome the challenge not only to the school principal but also to school supervisor by enhancing managerial competence.

 

Keywords: revitalization, principal, leader and manager, managerial, supervisor

 

ABSTRAK

Ide revitalisasi fungsi kepala sekolah yang digagas sejak tahun 2010 kini terwujud dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Kepala Sekolah menggantikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 28 Tahun 2010, dan diperkuat dengan rincian tugas yang dituangkan dalam Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 tentang  Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Revitalisasi yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan ini disambut baik oleh semua pihak. Fungsi baru kepala sekolah sebagai manajer satuan pendidikan merupakan peluang besar untuk menghebatkan satuan pendidikan melalui tata kelola yang baik terhadap delapan standar nasional pendidikan (SNP). Namun ini memunculkan tantangan yang besar pula bagi kepala sekolah yang semula sebagai guru dengan tugas tambahan kepala sekolah kini memiliki tugas utama yaitu sebagai pemimpin yang mengelola satuan pendidikan.

 

Kata Kunci: revitalisasi, principal, pemimpin dan manajer, manajerial, pengawas

 

 

PENDAHULUAN

Kepala sekolah selama ini memiliki tugas utama sebagai guru, dan melaksanakan tugas tambahan sebagai pemimpin sekolah. Permendiknas  Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah, pasal 1 ayat [1] menyatakan Kepala sekolah/madrasah adalah guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin taman kanak-kanak/raudhotul athfal (TK/RA), taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA), sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK), atau sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) yang bukan sekolah bertaraf internasional (SBI) atau yang tidak dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Pasal ini memberikan konsekwensi beban tugas kepala sekolah untuk mengajar 6 jam pelajaran per minggu.

Dalam pelaksanaan tugas mengajar 6 jam pelajaran per minggu, ternyata kepala sekolah banyak mengalami kendala. Sederetan tugas manajerial kepala sekolah memerlukan waktu, pemikiran, tenaga dan fokus. Pada saat kepala sekolah harus mengajar, pada saat itu pula harus melakukan tugas yang bersifat manajerial yang tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.  Akibatnya banyak kelas kosong selama kelas ditinggal kepala sekolah; atau banyak jam mengajar kepala sekolah yang dikerjakan oleh guru lain sehingga menimbulkan preseden buruk kepala sekolah. Hal ini tentu saja berdampak pula pada kualitas pembelajaran dan berefek pula pada kualitas pengelolaan satuan pendidikan.

Berdasarkan kendala-kendala tersebut di atas, perlu peningkatkan kualitas pendidikan melalui revitalisasi fungsi kepala sekolah dan perubahan penugasan kepala sekolah. Oleh karena itu pemerintah pada tanggal 22 Mei 2018 meluncurkan Permendikbud No. 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Kepala Sekolah. Pasal 1 ayat [1] menyebutkan Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan yang meliputi taman kanak-kanak (TK), taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), atau Sekolah Indonesia di Luar Negeri.

Pasal ini menegaskan bahwa tugas kepala sekolah tidak lagi mengajar namun memimpin sehingga bersifat manajerial. Kepala sekolah bukan lagi guru yang mendapat tambahan tugas memimpin satuan pendidikan, namun memimpin satuan pendidikan merupakan tugas utama kepala sekolah. Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan sekolah dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan 8 (delapan) standar nasional pendidikan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan kepala sekolah melaksanakan tugas pembelajaran atau pembimbingan apabilai terjadi kekurangan guru agar proses pembelajaran atau pembimbingan tetap berlangsung. Selanjutnya ketugasan kepala sekolah secara rinci dituangkan dalam Lampiran II Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018.

TUGAS POKOK KEPALA SEKOLAH

            Sebagaimana diamanatkan dalam Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 pasal 15, tugas pokok kepala sekolah sebagai berikut: [1] Beban kerja Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan. [2] Beban kerja Kepala Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat [1] bertujuan untuk mengembangkan sekolah dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan 8 (delapan) standar nasional pendidikan. [3] Dalam hal terjadi kekurangan guru pada satuan pendidikan, Kepala Sekolah dapat melaksanakan tugaspembelajaran atau pembimbingan agar proses pembelajaran atau pembimbingan tetap berlangsung pada satuan pendidikan yang bersangkutan. [4] Kepala Sekolah yang melaksanakan tugas pembelajaran atau pembimbingan sebagaimana dimaksud pada ayat [3], tugas pembelajaran atau pembimbingan tersebut merupakan tugas tambahan di luar tugas pokoknya. [5] Beban kerja bagi kepala sekolah yang ditempatkan di SILN selain melaksanakan beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) juga melaksanakan promosi kebudayaan Indonesia. Beban kerja Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan sebagaimana ayat [1] selanjutnya dijelaskan dalam Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018. Tugas Manajerial

            Tugas manajerial kepala sekolah meliputi: (1) Merencanakan Program Sekolah; (2) Mengelola Standar Nasional Pendidikan meliputi: Standar Kompetensi Lulusan,  Standar Isi,  Standar Proses,   Standar Penilaian,  Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan,  Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan; (3) Melaksanakan Pengawasan dan Evaluasi , (4) Melaksanakan kepemimpinan sekolah; dan (5) Mengelola Sistem Informasi Manajemen Sekolah

Tugas Pengembangan Kewirausahaan

            Kepala sekolah wajib melakukan pengembangan kewirausahaan meliputi: (1)  Merencanakan program pengembangan kewirausahaan; (2) Melaksanakan program pengembangan kewirausahaan yang terdiri dari: Program Pengembangan Jiwa Kewirausahaan (inovasi, kerja keras, pantang menyerah, dan motivasi untuk sukses), Melaksanakan program pengembangan jiwa kewirausahaan , Melaksanakan pengembangan program unit produksi, Melaksanakan program pemagangan; (3) Melaksanakan Evaluasi Program Pengembangan Kewirausahaan.

Supervisi kepada Guru dan Tenaga Kependidikan

            Sebagai pimpinan satuan pendidikan, kepala sekolah memiliki keharusan melaksanakan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan, meliputi: (1) Merencanakan program supervisi guru dan tenaga kependidikan; (2) Melaksanakan supervisi guru; (3) Melaksanakan supervisi terhadap tenaga kependidikan; (4) Menindaklanjuti hasil supervisi terhadap guru dalam rangka peningkatan      profesionalisme Guru; (5) Melaksanakan evaluasi supervisi guru dan tenaga kependidikan; dan (6) Merencanakan dan menindaklanjuti hasil evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan.

PELUANG BAGI KEPALA SEKOLAH

            Banyak faktor yang terlibat untuk mewujudkan sekolah berkualitas dan  salah satu yang sangat menentukan adalah kepala sekolah. Eksistensi kepala sekolah dalam memimpin dan mengelola sekolah merupakan figur sentral yang bertanggung jawab terhadap kesuksesan proses pendidikan. Sumber daya manusia, keuangan, sarana prasarana, serta informasi tidak dapat bekerja optimal dalam pencapaian tujuan sekolah apabila kepemimpinan sekolah tidak baik.

Kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan mensinergikan semua sumber daya pendidikan yang ada di sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil insisiatif dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Sebagaimana Danim dan Suparno (2009:19) mengemukakan bahwa “kepala sekolah bertanggungjawab menjaga dan memotivasi guru, peserta didik, staf administrasi sekolah agar mau dan mampu melaksanakan ketentuan dan peraturan yang berlaku di sekolah. Disinilah esensi bahwa kepala sekolah harus memapu menjalankan peran kekepala-sekolahan dan kempuannya di bidang manejemen sekolah”.

Kutipan tersebut di atas membuktikan bahwa peran kepala sekolah sedemikian penting untuk menjadikan sebuah sebuah sekolah pada tingkatan yang efektif. Seperti banyak yang berpendapat bahwa sekolah yang memiliki kepala sekolah yang baik yang mau dan mampu untuk bekerja keras dalam memberdayakan seluruh potensi sumber daya sekolah menjadi jaminan keberhasilan sekolah. Agar pelaksanaan tugas efektif dan mampu mendayagunakan seluruh potensi sumber daya yang dimiliki sekolah maka kepala sekolah harus memahami perannya.  Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Suryosubroto (2010:86) bahwa “kepala sekolah wajib mendayagunakan seluruh personil sekolah secara efektif dan efisien agar tujuan penyelenggaraan pendidikan di sekolah tersebut tercapai dengan optimal.”

            Dari penjelasan tersebut di atas dan diperkuat dengan perubahan fungsi kepala sekolah dari guru menjadi manajer maka dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah memiliki peluang untuk menghebatkan sekolah dengan kompetensi manajerialnya. Tugas mengajar yang telah dihilangkan menjadi peluang bagi kepala sekolah untuk lebih fokus melaksanakan tugas memimpin dan mengelola sekolah.

TANTANGAN

Manajerial

            Kepala Sekolah merupakan salah satu unsur penjaminan mutu pendidikan. Dalam pelaksanaan tugasnya ada beberapa tahapan yang harus dilakukan antara lain: (a) merencanakan program, (b) melaksanakan rencana kerja, (c) melaksanakan pengawasan dan evaluasi, (d) menjalankan kepemimpinan sekolah, dan (e) menerapkan sistem informasi sekolah. Dalam perencanaan program tentu didahului dengan penyusunan visi, misi, dan tujuan sekolah. Apabila sekolah sudah memilikinya maka yang perlu dilalukan adalah peninjauan kembali secara apakah visi, misi, dan tujuan masih sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Selanjutnya sekolah menyusun rencana kerja jangka menengah (RKJM) yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu empat tahun yang berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan dan rencana kerja tahunan yang dinyatakan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah. Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengelolaan sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

            Kelemahan yang ditemukan berdasarkan hasil visitasi akreditasi dan penilaian kinerja kepala sekolah beberapa tahun terakhir di Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa sebagian besar sekolah memiliki dokumen RKJM namun tidak dipergunakan sebagai dasar penyusunan RKAS. Dengan kata lain RKAS tidak relevan dengan RKJM. Hal ini karena penyusunan RKJM tidak disusun dengan prosedur yang benar, sekedar untuk mewujudkan ketersediaan dokumen saja. Bahkan RKJM tidak melalui persetujuan rapat dewan pendidik, memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah dan disahkan berlakunya oleh dinas pendidikan kabupaten/kota atau pada sekolah swasta rencana kerja tersebut tidak disahkan berlakunya oleh penyelenggara sekolah. Hal ini berdampak pada penyusunan RKAS yang tidak menjiwai RKJM. Ini merupakan tantangan kepala sekolah untuk selanjutnya bersama dewan pendidik, dan komite meyusun RKJM yang benar dengan cara yang benar.

            Berdasarkan RKJM dan RKAS selanjutnya sekolah mengelola Standar Nasional Pendidikan meliputi: Standar Kompetensi Lulusan,  Standar Isi,  Standar Proses,   Standar Penilaian,  Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan,  Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan. Agar pengelolaan SNP tersebut mencapai standar maka diperlukan pengawasan dan evaluasi. Sekolah menyusun program pengawasan secara obyektif, bertanggung jawab dan berkelanjutan.  Program pengawasan disosialisasikan ke seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Pengawasan pengelolaan sekolah meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Tantangan bagi kepala sekolah yaitu memperbaiki pelaksanaan pemantauan, supervisi, dan evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjutnya. Sebagai seorang pemimpin dan pengelola sekolah jangan lagi hanya menciptakan dokumen-dokumen asal-asalan yang tidak bermakna.

Pengembangan Kewirausahaan    

Tugas kepala sekolah yang sangat menantang yaitu pengembangan kewirausahaan. Sejak terbitnya Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 telah ditetapkan lima dimensi kompetensi kepala sekolah. Salah satunya adalah kompetensi kewirausahaan meliputi: menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah; bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif; memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah,  memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik. Secara konkrit kepala sekolah wajib melakukan pengembangan kewirausahaan meliputi mulai dari merencanakan, melaksanakan program pengembangan jiwa kewirausahaan (inovasi, kerja keras, pantang menyerah, dan motivasi untuk sukses), melaksanakan pengembangan program unit produksi, dan program pemagangan; serta melaksanakan evaluasi program pengembangan kewirausahaan.

Untuk menjadi kepala sekolah yang berjiwa wirausaha harus menerapkan beberapa hal berikut: (1) berpikir kreatif-inovatif, (2) mampu membaca arah perkembangan dunia pendidikan, (3) dapat menunjukkan nilai lebih dari beberapa atau seluruh elemen sistem persekolahan yang dimiliki, (4) perlu menumbuhkan kerjasama tim, sikap kepemimpinan, kebersamaan dan hubungan yang solid dengan segenap warga sekolah, (5) mampu membangun pendekatan personal yang baik dengan lingkungan sekitar dan tidak cepat berpuas diri dengan apa yang telah diraih, (6) selalu meng-upgrade ilmu pengetahuan yang dimiliki dan teknologi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas ilmu amaliah dan amal ilmiahnya, (7) bisa menjawab tantangan masa depan dengan bercermin pada masa lalu dan masa kini agar mampu mengamalkan konsep manajemen dan teknologi informasi. (Akhmad Sudrajad: 2010)

Tantangan baru terutama bagi kepala SMA yaitu tugas mengelola kegiatan produksi yang belum lazim dilakukan. Kegiatan produksi ialah suatu proses kegiatan usaha yang dilakukan sekolah secara berkesinambungan, bersifat akademis dan bisnis dengan memberdayakan warga sekolah dan lingkungan dalam bentuk bisnis center yang dikelola secara profesional. Oleh karena itu kegiatan produksi dalam bentuk bisnis center juga merupakan suatu suatu wadah kewirausahaan dalam suatu organisasi yang memerlukan kewenangan khusus dari pimpinan sekolah kepada pengelola untuk melakukan tugas dan tanggungjawabnya secara demokratis. Karena bisnis center adalah wadah kewirausahaan di sekolah maka harus dikelola secara akademis/bisnis dan dilembagakan dalam suatu wadah usaha. Kepala sekolah SMA dapat mengadopsi ilmu yang dimiliki oleh kepala SMK.

Bagi kepala sekolah SMK tugas pengelolaan kegiatan produksi sudah tidak asing lagi. Bentuk kegiatan produksi dapat diujudkan dengan unit produksi yang dilaksanakan sesuai dengan program keahlian. Fungsi unit produksi adalah (1) sebagai sub sistem dalam sistem sekolah yang melaksanakan peningkatan keterampilan, kreatifitas, serta profesionalisme guru dan mutu tamatan, (2) wadah inovasi pengembangan kurikulum muatan lokal, (3) tempat pelaksanaan uji kompetensi dan penyusunan standar kemampuan dasar produktif, (4) pendukung pengembangan dan perawatan peralatan serta fasilitas sekolah lainnya, (5) pendukung peningkatan kesejahteraan warga sekolah, dan (6) menjadi sarana promosi sekolah dan bentuk upaya membangun citra sekolah.  Sehubungan dengan ketercapaian tujuan dan fungsi unit produksi di atas kepala sekolah dalam pengelolaan unit produksi dapat menerapkan manajemen berbasis sekolah dengan prinsip: (1) kemandirian, (2) akuntabilitas, (3) transparan, (4) kemitraan, (5) partisipasi, (6) efektif, dan (7) efesien (Depdiknas: 2006).

Keberhasilan unit produksi sangat tergantung kepada manajemen yang diterapkan di sekolah tersebut. Oleh karena menjadi hal yang penting untuk memperkuat manajemen  agar unit produksi dapat dikembangkan dalam upaya memperkokoh daya saing tamatan. Direktorat Pembinaan SMK (2006) menyatakan langkah-langkah yang dapat dilakukan kepala SMK untuk mendukung keberhasilan unit produksi, antara lain: perkuat jiwa wirausaha karena wirausahawan, kesadaran akan manfaat keberadaan unit produksi, tertib administrasi, ciptakan iklim pasar di sekolah, pengondisian lingkungan sekolah, guru adalah sumberdaya yang penting, membuka berbagai referensi belajar, dan mengembangkan organisasi unit produksi.

 Perkuat Jiwa Wirausaha, karena wirausahawan adalah juga seorang pemimpin yang mampu mempengaruhi dan meyakinkan kelompoknya dalam mengembangkan gagasannya dengan cara melakukankerjasama yang saling mempercayai satu sama lain. Komitmen yang teguh dalam mencari dan menciptakan peluang ini bisa ditumbuhkan dengan cara penyederhanaan birokrasi dan pendelegasian wewenang yang jelas kepada mitra usaha dan bawahan dalam menjalankan bisnis dan dalam pengambilan keputusan.

Kesadaran akan Manfaat Keberadaan Unit Produksi karena unit produksi dapat menjadi wadah yang menampung produk siswa (menjadi quality control atas produk siswa), dan menjadi tim pemasaran(menjadi agen penjualan yang dapat memberikan kontribusi langsung siswa memperoleh hasil penjualan). Dalam upaya mengembangkan kesadaran ini, diperlukan iklim manajemen yang transparan sehingga seluruh warga sekolah dapat melihat secara langsung berbagai keuntungan yang diperoleh.

 Tertib Administrasi merupakan aspek administrasi yang kurang mendapat perhatian dalam usaha kecil di sekolah. Unit produksi seharusnya melakukan pembukuan atas setiap transaksi yang dapat dipelajari oleh warga sekolah. Data operasi unit produksi dapat menjadi sarana untuk mengkaji berbagai hal yang berhubungan dengan pengembangan usaha, misalnya jenis permintaan yang paling sering disampaikan pelanggan, jenis produk yang cenderung diperlukan pada waktu tertentu, jenis produk yang diminati pada kalangan tertentu, dimana lokasi tempat tinggal pelanggan, pada waktu kapan keuntungan terbesar, pada saat bagaimana produk mencapai puncaknya atau sebaliknya permintaan pada posisi terendah.

Ciptakan Iklim Pasar di Sekolah dengan memberi kesempatan siswa dan guru untuk melakukan “jual-beli” di sekolah. Misalnya antara siswa maupun siswa dengan guru atau sebaliknya guru dengan siswa. Mereka dapat saling berjual-beli untuk saling memenuhi kebutuhan. Namun harus ada tata-tertib yang membatasi agar transaksi jual-beli tidak mengganggu proses belajar-mengajar. Selanjutnya anjurkan siswa untuk berjualbeli di lingkungan keluarga mereka dan diteruskan dengan berjual-beli dengan di lingkungan masyarakat sekitar. Dengan cara ini maka akan terbentuk jejaring laba-laba yang bermuara di sekolah.

Pengondisian Lingkungan Sekolah dengan menanamkan nilai-nilai yang ada di industri untuk terjadi dan berlangsung di sekolah. Beberapa nilai yang dapat mulai dikondisikan adalah kebersihan, ketertiban, disiplin, dan ramah terhadap setiap tamu. Kondisi ini harus diciptakan dan menjadi budaya sekolah, karena dengan terciptanya kondisi tersebut warga sekolah khususnya siswa akan mengalami lingkungan/ dunia usaha yang sesungguhnya. Karena di dunia usaha selalu diupayakan suasana Kewirausahaan Kepala Sekolah yang tertib, disiplin, ramah terhadap pelanggan dan selalu menjaga kebersihan untuk memberi kenyamanan kepada pelanggan dan relasi.

 Guru adalah sumberdaya yang penting sehingga perlu diikut-sertakan dalam berbagai diklat yang memungkinkan mereka berkembang dalam penguasaan kompetensi dan mencapai peningkatan wawasan dan keterampilan berwirausaha. Guru sebagai aset penting akan menjadi agen perubahan dalam iklim belajar siswa.

 Membuka berbagai referensi belajar dengan multi referensi dan metode yang variatif akan menjadi daya tarik bagi siswa untuk menekuninya. Siswa perlu dibawa untuk melihat kemungkinan mencari informasi dan ide serta sumber belajar dari berbagai jenis referensi. Gunakan metode survey ke lapangan/ pasar, menjelajah internet, mempelajari iklan, berbagi berita ekonomi dan bisnis, membaca success story, akan merupakan pengalaman belajar yang memberi banyak pengetahuan.

Mengembangkan Organisasi Unit Produksi dengan memperhatikan dalam membuat struktur organisasi unit produksi antara lain: (1) organisasi dan manajemen unit produksi disusun secara flat, (2) mengembangkan prinsip ”desentralisasi” dan otoritas dalam pembagian tugas dan wewenang, (3) peran dan tanggungjawab personel dan pengelola secara jelas, untuk dapat menumbuhkan usaha tanpa dikekang oleh jalur birokrasi yang kaku, (4) gaya kepemimpinan sekolah bersifat luwes, fleksibel dan demokratis, untuk dapat menjalin komunikasi dan menyaring informasi dengan cepat bagi kepentingan unit produksi, (5) staffing, dilakukan dalam aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan SDM dalam pengembangan unit produksi yang meliputi: rekrutmen, seleksi, penempatan, orientasi, pemberian imbalan, unit pelatihan, promosi dan penilaian prestasi kerja, dan (6) pengendalian dilakukan untuk melakukan pengaturan atau pengarahan dalam organisasi agar tujuan tercapai.

Supervisi Guru dan Tenaga Kependidikan

            Salah satu aspek penilaian akreditasi dan penilaian kinerja kepala sekolah  yang sulit mencapai kriteria ‘amat baik’ selama ini adalah supervisi, baik supervisi pembelajaran yang dilakukan kepada guru maupun supervisi manajerial maupun kinerja tenaga kependidikan. Sebagian besar asesor menemukan dokumen yang dimiliki tidak sesuai dengan kenyataan pelaksanaan. Program disusun secara asal-asalan, dan bukti fisik hanya untuk memenuhi kebutuhan penilaian. Seharusnya supervisi pengelolaan akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah.

PencapaIan tujuan kurikulum dapat terwujud bila dalam pelaksanaannya dilaksanakan pengawasan atau supervisi yang baik dan berkelanjutan. Pada implementasi kurikulum 2013 terdapat hal-hal baru diseputar kegiatan pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, proses, dan penilaian, sehingga keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013 sebenarnya sudah dapat dideteksi oleh seorang Kepala Sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Berdasarkan kenyataan tersebut dan untuk mendukung peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolah, dibutuhkan kepala sekolah yang memahami kurikulum sehingga diharapkan dapat membimbing, menjadi contoh, dan menggerakkan pendidik dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Kepala sekolah diharapkan secara terus menerus melakukan pengawasan pelaksanaan tugas tenaga kependidikan dan melaporkan hasil evaluasi kepada komite sekolah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan sekurang-kurangnya setiap akhir semester.  Setiap pihak yang menerima laporan hasil pengawasan menindaklanjuti laporan hasil pengawasan tersebut dalam rangka meningkatkan mutu sekolah, termasuk memberikan sanksi atas penyimpangan yang ditemukan. Sekolah mendokumentasikan dan menggunakan hasil pemantauan, supervisi, evaluasi, dan pelaporan serta catatan tindak lanjut untuk memperbaiki kinerja sekolah, dalam pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan secara keseluruhan.

Sejalan dengan nafas revitalisasi fungsi kepala sekolah untuk tujuan peningkatan mutu pendidikan maka diharapkan kepala sekolah menyambut tantangan dengan melaksanakan tugas supervisi dengan baik. Mulai dari merencanakan program supervisi guru dan tenaga kependidikan, melaksanakan supervisi guru, melaksanakan supervisi terhadap tenaga kependidikan, menindaklanjuti hasil supervisi melaksanakan dan merencanakan dan menindaklanjuti hasil evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan.

Kepala sekolah perlu menguasai tentang pendekatan, metode, dan teknik supervisi agar dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan dan karakteristik sasaran supervisi. Menurut Sahertian (2000), ada 3 (tiga) pendekatan supervisi akademik. Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan non-direktif disebut juga tidak langsung adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah. Pendekatan kolaboratif Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi.

Metode Supervisi dibedakan menjadi dua: langsung dan tidak langsung. Supervisi langsung merupakan cara yang ditempuh seorang supervisor baik secara pribadi maupun dinas langsung berhadapan dengan orang yang akan disupervisi baik secara individual maupun kelompok. Sedangkan supervisi tidak langsung merupakan cara di mana seorang supervisor baik secara pribadi maupun dinas menggunakan berbagai media komunikasi dalam berhubungan dengan orang yang akan disupervisi baik secara individu maupun kelompok, misalnya melalui: internet, email, surat, papan pengumuman, dan berbagai macam media sosial.

Teknik Supervisi dibedakan menjadi: individual dan kelompok.  Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru, teknik supervisi individual terdiri atas lima macam yaitu kunjungan kelas observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas dan menilai diri sendiri. Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditunjukkan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan- kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu, kemudian diberi layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhannya

              

Kepala sekolah perlu bekerja sama dengan pengawas untuk menyiapkan instrumen supervisi yang baik. Untuk menyusun instrumen supervisi yang baik perlu diawali dengan penyusunan kisi-kisi yang berisi tentang indikator-indikator yang akan dicapai. Kebermaknaan nilai dari kegiatan supervisi salah satunya adalah instrumen yang digunakan, maka penyiapan dan pemilihan instrumen yang baik dan representatif sesuai kebutuhan menjadi perhatian bagi kepala sekolah.

PENUTUP

            Revitalisasi fungsi kepala sekolah dari memiliki tugas utama sebagai guru menjadi pemimpin sekolah, ternyata memunculkan peluanng sekaligus tantangan yang sangat menarik. Peluang untuk melakukan pengelolaan dengan optimal untuk menghebatkan sekolah telah diwujudkan dengan ditiadakannya tugas mengajar. Keberhasilan terletak pada komitmen, kerja keras, dan kreativitas kepala sekolah. Kemampuan memompa diri dengan semangat menggelora menjadi sosok pemimpin yang mampu menghadapi tantangan dalam ketugasan: manajerial, kewirausahaan, dan supervisi sangat menentukan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Pengawas memiliki tanggang jawab sekaligus tantangan untuk memberikan konstribusi aktif dalam mendampingi kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin dan manajer. Pengawas dituntut meningkatkan kompetensi manajerial termasuk kompetensi kewirausahaan agar mampu membantu sekolah mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

 

Daftar Pustaka

Sudrajad. 2000. Kewirausahaan Kepala Sekolah. https://akhmadsudrajat.wordpress.com. diakses pada tanggal 20 Mei 2018

 

Danim, Sudarwan dan Suparno. 2009. Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

 

Depdiknas. 2007. Kewirausahaan Sekolah. Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah. Jakarta.

 

Direktorat Tenaga Kependidikan. 2010. Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kewirausahaan Kepala Sekolah. Jakarta: Dirjen PMPTK, Kementerian Pendidikan Nasional

 

Direktorat Pembinaan SMK. 2006. Pengembangan Unit Produksi di SMK, Jakarta: Dirjen PMPTK, KementerianPendidikanNasional

 

Kementerian Pendidikan Nasional. 2011. Kewirausahaan. Suplemen Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah. Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. Jakarta.

 

Sahertian, Piet A. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Akademik. Jakarta: Bineka Cipta

Suryosubroto. 2010. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah

Permendiknas  Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah

 

Permendiknas  Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah

 

Permendiknas  Nomor 15 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah

 

Penulis

Nama

Tempat /tanggal lahir

Pangkat/ Golongan

Jabatan saat ini

Pendidikan

Unit Kerja

email

  

: Dra. RENI HERAWATI, M.Pd.B.I.

: Kulon Progo, 1 Mei 1964

: Pembina Utama Muda/ IV.c

: Pengawas SMA 

: S2 Bahasa Inggris

: Balai Pendidikan Menengah Kota  Yogyakarta

:herawatireni@yahoo.com

 


Artikel lainya

 
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN BAGI GURU MATEMATIKA MELALUI PEMBERDAYAAN KEGIATAN MGMP DI SMK KABUPATEN KULON PROGO SEMESTER 1 TAHUN 2017/2018
 
LANGKAH STRATEGIS PERSIAPAN AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH
 
Mendekatkan Pelajar dengan Bahasa dan Aksara Jawa
 
Membumikan Budaya Satriya di Kalangan Pengawas Sekolah

Komentar artikel jurnal

Artikel Lain Kembali ke atas






POJOK INSPIRASI

Dua hal yang sulit diatasi dalam hidup adalah sukses dan kegagalan. (Anonim)
LINK PENTING: BSE - Lembaga Pusat - Lembaga Daerah - Link UPTD - Budaya Baca - Konten Pendidikan - NUPTK - NISN - NPSN - Seksi DIKTI - BAN SM

Kantor : Jl.Cendana 9 Yogyakarta Kode Pos : 55166 Telepon : (0274) 541322 Fax : 513132 Email : dikpora@jogjaprov.go.id
Dinas Pendidikan, Pemuda, & Olahraga
Daerah Istimewa Yogyakarta.

www.pendidikan-diy.go.id
Copyright © 2017 .Hak cipta dilindungi undang-undang.
Web themes by WatulintangMedia