Seminar Nasional Pengasuhan Anak Digelar di Dinas Dikpora DIY - dikpora.jogjaprov.go.id

Seminar Nasional Pengasuhan Anak Digelar di Dinas Dikpora DIY

DETAIL BERITA 11 Agustus 2018 04:08 WIB,   Jurnalis: Zakky M ,   Dibaca : 361kali


  Foto : Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, sedang menyampaikan materi  
Share :

Seminar Nasional Pengasuhan Anak di Dalam Keluarga dan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal diselenggarakan di Sasana Krida, Dinas Dikpora DIY, Sabtu (11/08/2018). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) bekerja sama dengan Dinas Dikpora DIY; Yayasan Satu Nama; dan salah satu organisasi pemerhati keselamatan anak dunia, Kindermissionswerk Die Sternsinger.

Dalam sambutannya sebagai panitia penyelenggara, Direktur Yayasan Satu Nama, William E. Aipipidely, mengatakan, seminar ini dilaksanakan sebagai usaha untuk melihat berbagai isu tentang anak. “Misalnya fenomena yang sedang marak akhir-akhir ini, yakni klitiih. Tidak mungkin klitih itu tanpa adanya faktor. Pasti ada faktor yang melatar belakanginya,” jelasnya.

“Oleh karena itu, seminar ini diharapkan bukan hanya menjadi diskursus untuk membahas berbagai isu permasalahan terkait dengan anak semata, melainkan bisa menghasilan sesuatu yang sifatnya operasional dalam pola pengasuhan anak,” harapnya.

Sementara itu, seminar ini sendiri dibuka oleh Wakil Rektor IV UST, Yuyun Yulia, Ph.D. Dalam sambutannya, Yuyun menjelaskan pentingnya pendidikan karakter. “Negara kita ini terutama Yogyakarta kaya akan ajaran-ajaran dan filosofi tentang pendidikan karakter sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara,” paparnya.

Yuyun memberikan contoh terkait itu, diantaranya; konsep tentang keluarga, sekolah, dan masyarakat yang tidak bisa saling menyalahkan satu sama lain dalam mendidik anak karena semua itu saling berkaitan.

Juga contoh lain yakni ajaran tentang memerdekakan anak atau menghamba diri pada anak. “Ada sebuah cerita dulu suatu saat kelas itu ribut, karena gurunya tidak hadir. Ki Hajar Dewantara lewat dan mengetahui itu. Kalau kita yang mengalami itu pasti kita akan marah dan ngedumel, ini gurunya mana, dan sebagainya. Tetapi beliau tidak. Beliau kemudian membawa mereka keluar kelas dan mengajak mereka belajar berhitung sambil bermain,” cerita Yuyun dihadapan para peserta seminar.

Yuyun juga menjelaskan bahwa banyak sekali falsafah dan ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara yang sudah diimplementasikan dalam pola pendidikan di DI. Yogyakarta. Bahkan juga sudah diimplementasikan juga di Finlandia. “Prinsip-prinsip kearifan lokal itu sudah diterapkan di sana, tapi jauh sebelum itu, prinsip itu sudah diterapkan dulu di DI. Yogyakarta khususnya Tamansiswa,” tuturnya.

Ia juga berharap bahwa seminar ini bukan hanya menjadi talkshow semata, melainkan juga merupakan sebuah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan budaya nasional dan ajaran luhur Tamansiswa.

Salah satu narasumber dalam acara ini ialah Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait. Arist menyampaikan materi dengan tema pengasuhan anak: peran keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam upaya melindungi anak dari tindak kekerasan.

Menurut Arist, anak ialah seseorang yang berusia dibawah 18 tahun termasuk yang masih dalam kandungan. Anak juga mempunyai hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan Negara.

Sejak tahun 2013, Komnas PA menyatakan bahwa Indonesia telah berada dalam status darurat kejahatan seksual terhadap anak yang pengaduannya kepada Komnas PA setiap tahun terus meningkat dan meluas. Ada 216.897 kasus pelanggaran hak anak yang dimonitor oleh Komnas PA dari berbagai lembaga peduli anak yang ada di Indonesia. 58% diantaranya merupakan kejahatan seksual dan sisanya merupakan kekerasan fisik, penelantaran, penculikan, eksploitasi ekonomi, perdagangan anak, dan perebutan anak.

Kekerasan terhadap anak ialah segala bentuk perbuatan atau tindakan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikis, dan penelantaran termasuk pemaksaan dan merendahkan martabat. “Kekerasan terhadap anak bisa terjadi dimana saja. Bisa di rumah, di sekolah, dan lingkungan sosial,” ungkapnya.

“Bahkan sampai saat ini ada satu hal yang masih tidak bisa saya terima, yakni kejahatan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat. Dan itu fakta. 58% dilakukan oleh orang terdekat, yang seharusnya memberi perlindungan dan menjadi lini terdepan dalam melindungi anak,” jelasnya di hadapan para peserta seminar.

Dia juga menjelaskan bagaimana cara meminimalisir kekerasan terhadap anak. “Pertama kita bangun ketahan keluarga kita yang sudah mulai tergerus dengan pengaruh teknologi,” paparnya.

“Sekarang kita sedang mengalami tsunami, yakni tsunami teknologi. Ada 49 ibu-ibu melapor ke Komnas PA dan 21 diantaranya anaknya sudah mengakses pornografi. 8 diantaranya mengancam orang tuanya kalau sudah tidak dikasih gadget. Dan ini semua belum ada formulasinya. Kekerasan terhadap anak itu mengancam anak, dan tsunami teknologi itu juga mengancam anak. Inilah menjadi tugas kita bersama,” terang Aris.

Sementara itu, turut menyampaikan materi, Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Budi Andayani, MA. Andayani menyampaikan materi dengan tema Kawruh Pamomong: Pengasuhan Anak Dalam Keluarga Menurut Ki Ageng Suryomentaram. Ki Ageng Suryomentaram ialah putera ke-55 dari pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo.

Menurutnya, hakikat pengasuhan menurut Ki Ageng Suryomentaram adalah mendidik anak yang intinya ialah mensosialisasi anak dengan nilai-nilai, norma, adab, etika, dan aturan. Anak belajar tentang yang benar dan salah, baik dan buruk, serta patut dan tidak patut. Itu semua harus ditanamkan sejak dini, sesuai dengan usia anak memahami aturan.

Andayani juga menjelaskan tentang apa tujuan pengasuhan anak menurut Ki Ageng Suryomentaram. Menurutnya, orang tua berharap anak akan menjadi manusia dewasa yang hidup bahagia, merasa bejo, mampu mencari nafkah, dan hidup rukun dengan lingkungan. Hidup rukun dengan lingkungan ialah bebas konflik, saling mendukung, dan bisa berbahagia bersama-sama.  

Dalam kesempatan itu, hadir juga sebagai narasumber, Dra. Titik Muti’ah, MA., Ph.D, Dosen Fakultas Psikologi UST. Titik menyampaikan materi dengan tema Pola Pendidikan dan Pengasuhan Aman Berbasis Budaya Indonesia.

Ia menyampaikan beberapa masalah yang melanda anak-anak beserta faktor-faktornya. Diantaranya: masalah sosial emosional, kognitif, dan kesehatan anak, dipicu karena tidak adanya model pengasuhan yang efektif dan konsisten; meningkatkatnya kecemasan, kemarahan, dan kenakalan remaja, dipicu oleh kurangnya kasih sayang orang tua; fenomena perilaku antisosial, kekerasan, dan agresifitas individu maupun kelompok, yang dipicu karena pola asuh dan pola pendidikan yang kurang sinkron. 


Berita Terkait

Berita Lain


Komentar Berita

Kembali ke atas


PENGUMUMAN BARU
LINK PENTING: BSE - Lembaga Pusat - Lembaga Daerah - Link UPTD - Budaya Baca - Konten Pendidikan - NUPTK - NISN - NPSN - Seksi DIKTI - BAN SM

Kantor : Jl.Cendana 9 Yogyakarta Kode Pos : 55166 Telepon : (0274) 541322 Fax : 513132 Email : dikpora@jogjaprov.go.id
Dinas Pendidikan, Pemuda, & Olahraga
Daerah Istimewa Yogyakarta.

www.pendidikan-diy.go.id
Copyright © 2017 .Hak cipta dilindungi undang-undang.
Web themes by WatulintangMedia